Filsafat Muslim : Al-Din Tusi Ilmu Psikologi


Psikologi


Tusi membuka karangannya, bukan dengan mengemukakan bukti mengenai eksistensi jiwa, tapi dengan mengemukakan asumsi bahwa jiwa merupakan suatu realitas yang bisa terbukti sendiri, dan karena itu tidak memerlukan lagi bukti lain. Lagi pula jiwa, tidak bisa dibuktikan.

Dalam masalah semacam ini, pemikiran yang lepas dari eksistensi orang itu sendiri merupakan suatu kemustahilan adanya seorang ahli argumen dan seluruh masalah untuk diargumentasi, sedangkan dalam hal ini keduanya sama, yaitu jiwa.


Sifat Jiwa

Jiwa merupakan substasi sederhana dan immaterial yang dapar merasa sendiri. Ia mengontrol tubuh melalui otot-otot dan alat-alat perasa, tapi ia sendiri tidak dapat dirasa lewat alat-alat tubuh.

Setelah menyebutkan argumentasi ibn Miskawaih mengenai jasmaniah jiwa dari sifatnya yang tak dapat dibagi, kemampuannya untuk membuat bentuk-bentuk baru tanpa kehilangan bentuk-bentuknya yang lama, pemahamannya akan bentuk-bentuk yang bertentangan pada waktu yang sama, dan pembetulannya akan ilusi-rasa, Tusi menambahkan dua argumentasinya sendiri.

Penilaian atas logika, fisika, matematika, teologi dan sebagainya, dan dapat diingat dengan kejelasan yang khas, yang mustahil ada di dalam suatu substansi material; oleh karena itu, jiwa merupakan suatu substansi immaterial. Lagi pula, akomodasi fisik itu terbatas, sehingga seratus orang tidak dapat ditempatkan did alam sebuah tempat yang dibuat untuk limapuluh orang, hal ini tidak berlaku bagi jiwa.

Dapat dikatakan bahwa jiwa mempunyai cukup kemampuan untuk menempatkan semua gagasan dan konsep obnyek-obyekk yang dikenalnya ke dalam banyak ruang agar siap pada waktu diperlukan. Ini juga membutkikan bahwa jiwa merupakan suatu substansi yang sederhana dan immaterial.

Dalam ungkapan umum “kepalaku, mataku, telingaku,” kata “ku” menunjukkan idividualitas (huwiyyah) jiwa, yang memiliki anggota-anggota tubuh ini, dan bukan jasmaniahnya. Memang jiwa memerlukan tubuh sebagai alat penyempurnaan dirinya, tapi ia tidak begitu dikarenakan pemilikannya akan tubuh.


Indera-indera jiwa

Kepada jiwa vegetatif, hewani dan manusiawi yang dikemukakan oleh para pendahulunya, al-Tusi menambahkan jiwa imajinatif yang menempati posisi tengah di antara jiwa hewani dan manusiawi. Jiwa manusiawi ditandai dengan adanya akal (nutq) yang menerima pengetahuan dari akal pertama.

Akal itu ada dua jenis: akal teoritis dan akal praktis, sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles. Dengan mengikuti pendapat Kindi, Tusi berangggapan bahwa akal teoritis merupakan suatu potensialitas, yang perwujudannya mencakup empat tingkatan. Yaitu akal material (‘aql-i hayulani), akal malaikat (‘aql-i malaki), akal aktif (‘aql-i bi al-fi’i), dan akal yang diperoleh ( (‘aql-i mustafad).

Pada tingkatan akal yang diperoleh setiap bentuk konseptual yang terdapat di dalam jiwa menjadi nyata terlihat, seperti wajah seseorang yang ada di dalam kaca dapat dilihat oleh orang tersebut. Di lain pihak, akal praktis berkenaan dengan tindakan-tindakan yang tak sengaja dan yang sengaja. Oleh karena itu, potensialitasnya diwujudkan lewat tindakan-tindakan moral, kerumahtanggan dan politis.

Jiwa imajinatif berkenaan dengan persepsi-persepsi rasa di satu pihak. Dan dengan abstraksi-abstraksi rasional di pihak lain, sehingga jika ia disatukan dengan jiwa hewani maka ia akan menjadi tergantung kepadanya dan hancur bersamanya. Tetapi jikakalau ia dihubungkan dengan jiwa manusia, ia menjadi terlepas dari anggota-anggota tubuh dan ikut bergembira atau bersedih bersama jiwa itu dengan kekekalannya.

Setelah keterpisahan jiwa dari tubuh, maka jejak imajinasi tetap berada dalam bentuknya, dan hukuman atau penghargaan jiwa manusiawi menjadi ebrgantung kepada jejak ini (hai’at) yang dikenal atau dilakukan oleh jiwa imajinatif di dunia ini.

Imajinasi sensitif dan kalkulatif Aritoteles jelas merupakan struktur jiwa imajinatif Tusi, tapi tindakannya menghubungkan jiwa imajinatif dengan teori hukum dan penghargaan yang berbelit-belit di akhir merupakan gagasannya sendiri.

Sedangkan mengenai tradisi yang diterimanya dari ibn Sina dan Ghazali, Tusi mempercayai lokalisasi fungsi di dalam otak. Dia telah menempatkan akal sehat (hiss-i mushtarak( dalam ruang otak yang pertama, persepsi (mushawwirah) di awal bagian pertama ruang otak yang kedua, imajinasi di bagian depan ruang otak yang ketiga, dan ingatan di bagian belakang otak.

Gambar : Link

No comments